Beita Indo, Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing ternyata membawa dampak yang berbeda bagi sektor pariwisata Indonesia. Di tengah kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap pelemahan kurs, kondisi tersebut justru menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia, untuk datang dan berbelanja di Jakarta. Dalam beberapa bulan terakhir, kunjungan wisatawan Malaysia ke Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan.
Dengan uang yang sama, wisatawan Negeri Jiran kini dapat menikmati lebih banyak aktivitas wisata, kuliner, hingga berbelanja berbagai kebutuhan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan di negara asal mereka.
Fenomena ini terlihat di sejumlah pusat perbelanjaan Jakarta yang mulai ramai dikunjungi wisatawan asing. Produk fesyen, kain, busana muslim, hingga aneka oleh-oleh menjadi incaran para pelancong.Meski demikian, pelemahan rupiah juga memunculkan kekhawatiran di dalam negeri. Sebagian masyarakat mengingat kondisi krisis ekonomi 1998 yang ditandai dengan anjloknya nilai tukar rupiah dan tekanan ekonomi yang berat. Kekhawatiran tersebut muncul seiring kurs rupiah yang terus berada dalam tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Namun pemerintah menegaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan krisis yang pernah terjadi hampir tiga dekade lalu.
Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai pemerintah perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal yang lebih terukur dan evaluasi terhadap program-program yang berpotensi membebani anggaran negara. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Terlepas dari perdebatan mengenai dampak pelemahan rupiah, sektor perdagangan dan pariwisata saat ini menjadi salah satu pihak yang merasakan manfaat langsung.
Bagi Indonesia, tantangannya kini bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga memanfaatkan momentum meningkatnya kunjungan wisatawan asing agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.











