Ketua Panitia Suro Carnival Desa Getas, Fathul Mujib, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari gagasan para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) Desa Getas. Awalnya kegiatan hanya berupa pawai keagamaan yang dikenal dengan nama Pawai Ta’aruf.
“Dulu namanya Pawai Ta’aruf. Pada tahun 2017 kami menggagasnya menjadi Suro Carnival agar lebih merangkul tradisi Jawa sekaligus menjadi momentum memperingati Tahun Baru Islam,” ungkap Fathul Mujib.
Seiring berjalannya waktu, Suro Carnival berkembang menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat yang memadukan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal, dan kreativitas warga dari berbagai dukuh dan kelompok mushola di Desa Getas.
Pada tahun 2026 ini, panitia mengusung tema “Bersinergi Paling Indonesia”. Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai simbol khas desa, di antaranya barongsai dan gunungan hasil bumi yang menjadi ikon utama dalam kirab budaya.
Menurut Fathul Mujib, kedua ikon tersebut merepresentasikan semangat kebersamaan masyarakat Desa Getas yang hidup berdampingan dalam keberagaman budaya.
“Getas punya barongsai dan gunungan hasil bumi. Itu identitas kami. Ada sinergi antara seni, budaya, dan hasil bumi warga yang menjadi kekuatan masyarakat Desa Getas,” jelasnya.
Kirab budaya dijadwalkan dimulai pukul 15.00 WIB dengan titik start di depan Mushola Al-Ikhlas Getas RT 01 A. Rombongan peserta akan melintasi wilayah Dukuh Wates sebelum akhirnya finis di depan SD Negeri Getas 01.
Sebanyak 9 kontingen akan ambil bagian dalam kegiatan tersebut, terdiri dari 8 kelompok mushola dan 1 kelompok masjid. Masing-masing peserta diberi kebebasan berkreasi dalam menampilkan kostum dan atraksi budaya, dengan tetap memperhatikan norma kesopanan.
“Kostumnya bebas tetapi tetap sopan. Setiap RT dan kelompok peserta diberi ruang untuk berkreasi sesuai tema yang diangkat,” tambahnya.
Untuk mendukung kelancaran kegiatan, panitia mengandalkan pendanaan dari beberapa sumber, yakni kas IRMAS, dukungan pemerintah desa, donatur, serta iuran dari masing-masing kontingen peserta.
Fathul menegaskan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dilakukan secara terbuka dan transparan kepada masyarakat.
“Semua transparan. Iuran hanya untuk kebutuhan operasional kontingen masing-masing dan tidak ada unsur paksaan,” tegasnya.
Bagi masyarakat Desa Getas, Suro Carnival bukan sekadar hiburan tahunan. Kegiatan ini memiliki makna penting sebagai sarana memperingati 1 Muharram atau Tahun Baru Islam, melestarikan berbagai tradisi dan budaya Jawa, serta menjadi wadah silaturahmi antarwarga melalui kirab budaya yang melibatkan berbagai mushola dan kampung.
“Ini menjadi ajang silaturahmi warga sekaligus upaya nguri-uri budaya leluhur agar generasi muda tidak melupakan jati dirinya,” tutup Fathul Mujib.
Pemerintah Desa Getas memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Suro Carnival ke-9 ini. Panitia juga mengimbau seluruh warga maupun tamu yang hadir untuk bersama-sama menjaga ketertiban, kebersihan, serta menghormati nilai-nilai budaya yang ditampilkan selama rangkaian acara berlangsung.
Dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal, Suro Carnival Desa Getas diharapkan kembali menjadi ruang pemersatu masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya desa di tengah perkembangan zaman.









