Berita Indo, Eropa – Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat pada Juni 2026 ini .
Di Paris, Prancis, salah satu ikon wisata dunia, Menara Eiffel, terpaksa menutup operasional lebih awal pada Selasa waktu setempat. Pengelola membatasi jumlah pengunjung demi menjaga keselamatan di tengah suhu udara yang diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius.
Keputusan tersebut membuat banyak wisatawan kecewa karena harus membatalkan rencana menikmati panorama Kota Paris dari puncak menara.
Badan Meteorologi Prancis, Météo-France, memperkirakan suhu di sejumlah wilayah dapat menyentuh 40 hingga 43 derajat Celsius, dengan kondisi panas ekstrem diprediksi masih berlangsung hingga akhir pekan, Jumat 26/7/2026.
“Ketika sekarang kita mengalami gelombang panas, amat mungkin suhu lebih panas satu derajat atau lebih. Gelombang panas ini masih tergolong kejadian ekstrem, tapi juga semakin sering,” jelasnya.
Tak hanya Prancis, Inggris juga menghadapi kondisi serupa. Kawasan bisnis Canary Wharf di London mencatat suhu sekitar 35 derajat Celsius pada siang hari. Banyak warga memilih berteduh, menggunakan payung, dan mengurangi aktivitas luar ruangan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung.
Otoritas cuaca Inggris bahkan mengeluarkan peringatan panas ekstrem. Suhu diperkirakan dapat menembus 39 derajat Celsius, yang berpotensi memecahkan rekor suhu tertinggi bulan Juni yang telah bertahan selama hampir tujuh dekade.
Gelombang panas kali ini juga berdampak pada negara-negara Eropa lainnya. Sejumlah wilayah di Jerman, Polandia, Spanyol, Italia hingga Belanda turut mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem karena suhu diperkirakan mendekati atau melampaui 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan transportasi, pembatasan aktivitas luar ruangan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan.
Sementara itu, di Amerika Serikat, Pemerintah Kota New York mengambil langkah antisipatif untuk melindungi para pekerja yang rentan terpapar suhu tinggi.
Wali Kota Zohran Mamdani menandatangani perintah eksekutif yang mewajibkan seluruh instansi kota menyusun rencana pencegahan penyakit akibat panas, meningkatkan edukasi keselamatan kerja, serta memperkuat pengawasan terhadap pekerja lapangan.
Kebijakan tersebut mencakup lebih dari 1,4 juta pekerja, termasuk pekerja konstruksi, kurir pengantar barang, pedagang kaki lima, hingga pekerja gudang yang setiap hari beraktivitas di bawah terik matahari.
Pemerintah Kota New York juga mengungkapkan bahwa lebih dari 500 orang meninggal dunia setiap tahun akibat panas ekstrem. Risiko tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring perubahan iklim yang menyebabkan gelombang panas menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens.
Para ilmuwan menilai fenomena ini merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim global.











