<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DayaBeliMasyarakat Arsip - Berita Indo</title>
	<atom:link href="https://www.berita-indo.com/tag/dayabelimasyarakat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.berita-indo.com/tag/dayabelimasyarakat/</link>
	<description>Fakta Terkini,Berita Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2026 10:44:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.berita-indo.com/wp-content/uploads/2026/06/logo-berita-indo-1-90x90.png</url>
	<title>DayaBeliMasyarakat Arsip - Berita Indo</title>
	<link>https://www.berita-indo.com/tag/dayabelimasyarakat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ekonomi Melambat, Kebijakan Pajak Diperketat: Pakar Ingatkan Dampaknya bagi Kelas Menengah</title>
		<link>https://www.berita-indo.com/2026/07/30/ekonomi-melambat-kebijakan-pajak-diperketat-pakar-ingatkan-dampaknya-bagi-kelas-menengah/</link>
					<comments>https://www.berita-indo.com/2026/07/30/ekonomi-melambat-kebijakan-pajak-diperketat-pakar-ingatkan-dampaknya-bagi-kelas-menengah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2026 10:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[DayaBeliMasyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[EkonomiIndonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Pajak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.berita-indo.com/?p=466</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita Indo, Jakarta – Wacana perluasan pemungutan pajak kembali menjadi sorotan publik. <a class="read-more" href="https://www.berita-indo.com/2026/07/30/ekonomi-melambat-kebijakan-pajak-diperketat-pakar-ingatkan-dampaknya-bagi-kelas-menengah/" title="Ekonomi Melambat, Kebijakan Pajak Diperketat: Pakar Ingatkan Dampaknya bagi Kelas Menengah" itemprop="url"></a></p>
<p>Artikel <a href="https://www.berita-indo.com/2026/07/30/ekonomi-melambat-kebijakan-pajak-diperketat-pakar-ingatkan-dampaknya-bagi-kelas-menengah/">Ekonomi Melambat, Kebijakan Pajak Diperketat: Pakar Ingatkan Dampaknya bagi Kelas Menengah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.berita-indo.com">Berita Indo</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berita Indo, Jakarta</strong> – Wacana perluasan pemungutan pajak kembali menjadi sorotan publik. Mulai dari mekanisme pemungutan pajak melalui marketplace hingga polemik pajak atas pencairan Jaminan Hari Tua (JHT), berbagai kebijakan tersebut memunculkan perdebatan mengenai arah reformasi perpajakan di Indonesia.</p>
<p>Dalam program Economic with Rully Kurniawan, sejumlah narasumber menilai pemerintah saat ini berada dalam posisi yang tidak mudah.</p>
<p>&#8220;Perlambatan ekonomi membuat ruang fiskal semakin sempit, sementara kebutuhan belanja negara terus meningkat. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari berbagai cara untuk menjaga penerimaan negara,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Namun demikian, Menteri Keuangan menegaskan bahwa hingga kini belum ada keputusan final mengenai kebijakan pajak JHT. Pemerintah masih menunggu data dari BPJS Ketenagakerjaan sebelum menentukan langkah selanjutnya.</p>
<p>Direktur Eksekutif Indonesian Tax Care, Basuki Widodo, menilai persoalan utama bukan semata besarnya pajak, melainkan arah sistem perpajakan yang dinilai terlalu berorientasi pada pencapaian target penerimaan.</p>
<p>&#8220;Reformasi pajak seharusnya lebih menekankan pada peningkatan kesadaran masyarakat, penyederhanaan aturan, serta terciptanya rasa keadilan dalam sistem perpajakan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketua Komite Perpajakan APINDO, Sidi Widya Pratama, mengungkapkan dunia usaha saat ini berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global, kenaikan biaya logistik, serta meningkatnya intensitas pengawasan perpajakan.</p>
<p>Kondisi tersebut dinilai menambah beban, khususnya bagi pelaku usaha yang sedang berupaya mempertahankan usahanya.</p>
<p>Meski demikian, APINDO memandang kebijakan pemungutan pajak melalui marketplace bukanlah pajak baru.</p>
<p>&#8220;Perubahan tersebut lebih merupakan penyederhanaan mekanisme pemungutan agar tercipta persaingan yang lebih adil antara pelaku usaha daring dan luring,&#8221; terangnya.</p>
<p>Penjelasan serupa juga disampaikan Direktorat Jenderal Pajak yang menegaskan bahwa kebijakan tersebut hanya mengubah mekanisme pembayaran, bukan menambah jenis pajak baru.</p>
<p>Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Tengku Rifki, menilai kebijakan fiskal idealnya mempertimbangkan momentum ekonomi.</p>
<p>&#8220;Saat daya beli masyarakat sedang melemah, pemerintah dinilai perlu lebih banyak memberikan stimulus atau insentif agar aktivitas ekonomi tetap bergerak. Pengetatan pajak pada periode perlambatan ekonomi dikhawatirkan justru memperbesar tekanan terhadap kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi domestik,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Pada akhirnya, tantangan pemerintah bukan hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perpajakan.</p>
<p>Reformasi pajak akan lebih mudah diterima apabila dibarengi pelayanan yang transparan, kepastian hukum, serta manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat melalui pembangunan dan layanan publik yang berkualitas.</p>
<p>Artikel <a href="https://www.berita-indo.com/2026/07/30/ekonomi-melambat-kebijakan-pajak-diperketat-pakar-ingatkan-dampaknya-bagi-kelas-menengah/">Ekonomi Melambat, Kebijakan Pajak Diperketat: Pakar Ingatkan Dampaknya bagi Kelas Menengah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.berita-indo.com">Berita Indo</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.berita-indo.com/2026/07/30/ekonomi-melambat-kebijakan-pajak-diperketat-pakar-ingatkan-dampaknya-bagi-kelas-menengah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saat Ekonomi Sulit, Warga Pekalongan Utamakan Kenyang daripada Menu Mewah</title>
		<link>https://www.berita-indo.com/2026/06/17/saat-ekonomi-sulit-warga-pekalongan-utamakan-kenyang-daripada-menu-mewah/</link>
					<comments>https://www.berita-indo.com/2026/06/17/saat-ekonomi-sulit-warga-pekalongan-utamakan-kenyang-daripada-menu-mewah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 11:15:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[Beritaindo]]></category>
		<category><![CDATA[BeritaPekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[DayaBeliMasyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[EkonomiRakyat]]></category>
		<category><![CDATA[HargaPanganNaik]]></category>
		<category><![CDATA[WartegPekalongan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.berita-indo.com/?p=134</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita Indo , Pekalongan – Kenaikan harga pangan yang terus terjadi mulai <a class="read-more" href="https://www.berita-indo.com/2026/06/17/saat-ekonomi-sulit-warga-pekalongan-utamakan-kenyang-daripada-menu-mewah/" title="Saat Ekonomi Sulit, Warga Pekalongan Utamakan Kenyang daripada Menu Mewah" itemprop="url"></a></p>
<p>Artikel <a href="https://www.berita-indo.com/2026/06/17/saat-ekonomi-sulit-warga-pekalongan-utamakan-kenyang-daripada-menu-mewah/">Saat Ekonomi Sulit, Warga Pekalongan Utamakan Kenyang daripada Menu Mewah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.berita-indo.com">Berita Indo</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: verdana;" data-keep-original-tag="false" data-original-attrs="{&quot;style&quot;:&quot;&quot;}"><b>Berita Indo , Pekalongan </b>– Kenaikan harga pangan yang terus terjadi mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Di tengah tekanan ekonomi dan pendapatan yang relatif stagnan, sebagian warga kini lebih mengutamakan kebutuhan dasar dengan menerapkan prinsip &#8220;<a href="https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3425039665161516058/4675517881251458686#" data-original-attrs="{&quot;data-original-href&quot;:&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;q=define+%22yang+penting+kenyang%22&amp;bbid=3425039665161516058&amp;bpid=4675517881251458686&quot;,&quot;data-preview&quot;:&quot;&quot;,&quot;target&quot;:&quot;_blank&quot;}">yang penting kenyang</a>&#8221; saat membeli makanan.</p>
<p>Fenomena tersebut terlihat di sejumlah warung Tegal (warteg) di Kota Pekalongan. Menu sederhana seperti tahu, tempe, dan oseng sayur kini menjadi pilihan utama pelanggan dibandingkan lauk yang harganya lebih tinggi, seperti ayam, ikan, maupun hati sapi.</p>
<p>Salah satu warteg yang beroperasi selama 24 jam di Kota Pekalongan mencatat adanya perubahan kebiasaan konsumen dalam beberapa bulan terakhir. Pelanggan cenderung memilih makanan dengan harga terjangkau untuk menekan pengeluaran harian.</p>
<p>Sejumlah konsumen mengaku harus lebih cermat mengatur keuangan akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Selain membatasi anggaran makan, sebagian warga juga mulai mengurangi kebiasaan jajan di luar dan lebih sering memasak sendiri di rumah sebagai langkah penghematan.</p>
<p>Kondisi tersebut turut dirasakan para pelaku usaha kuliner. <a href="https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3425039665161516058/4675517881251458686#" data-original-attrs="{&quot;data-original-href&quot;:&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;q=Daryono+warteg+Pekalongan&amp;bbid=3425039665161516058&amp;bpid=4675517881251458686&quot;,&quot;data-preview&quot;:&quot;&quot;,&quot;target&quot;:&quot;_blank&quot;}">Daryono</a>, pemilik salah satu warteg di Kota Pekalongan, mengungkapkan bahwa permintaan terhadap lauk dengan harga lebih mahal mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.</p>
<p>&#8220;Sebaliknya, pelanggan kini lebih banyak mencari paket makanan murah yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menurut Daryono, tidak sedikit pelanggan yang datang dengan anggaran terbatas. Meski keuntungan yang diperoleh semakin tipis, ia tetap berupaya melayani pembeli karena makanan merupakan kebutuhan pokok masyarakat.</p>
<p>&#8220;Kadang ada yang minta dibungkuskan makanan dengan anggaran Rp10.000. Sebagai penjual, saya tetap melayani karena semua orang butuh makan,&#8221; katanya.</p>
<p>Pengamat ekonomi menilai bahwa ketika <a href="https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3425039665161516058/4675517881251458686#" data-original-attrs="{&quot;data-original-href&quot;:&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;q=define+daya+beli+masyarakat&amp;bbid=3425039665161516058&amp;bpid=4675517881251458686&quot;,&quot;data-preview&quot;:&quot;&quot;,&quot;target&quot;:&quot;_blank&quot;}">daya beli masyarakat</a> menurun, pola konsumsi akan bergeser ke produk atau makanan yang lebih murah. Akibatnya, masyarakat lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar meskipun harus mengurangi kualitas maupun variasi makanan yang dikonsumsi.</p>
<p>Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha warteg untuk tetap menjaga harga jual agar terjangkau di tengah kenaikan biaya bahan baku.</p>
<p>Karena itu, pemerintah diharapkan mampu menjaga <a href="https://draft.blogger.com/blog/post/edit/3425039665161516058/4675517881251458686#" data-original-attrs="{&quot;data-original-href&quot;:&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;q=stabilitas+harga+pangan+importance&amp;bbid=3425039665161516058&amp;bpid=4675517881251458686&quot;,&quot;data-preview&quot;:&quot;&quot;,&quot;target&quot;:&quot;_blank&quot;}">stabilitas harga pangan</a> dan memperkuat kondisi ekonomi agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus. Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menjaga keberlangsungan usaha mikro di sektor kuliner.</p>
<p>Fenomena &#8220;yang penting kenyang&#8221; menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat beradaptasi menghadapi situasi ekonomi yang penuh tantangan. </span></p>
<div><span style="font-family: verdana;" data-keep-original-tag="false" data-original-attrs="{&quot;style&quot;:&quot;&quot;}"> </span></div>
<div><span style="font-family: verdana;" data-keep-original-tag="false" data-original-attrs="{&quot;style&quot;:&quot;&quot;}">Di tengah keterbatasan, efisiensi pengeluaran menjadi pilihan utama demi memastikan kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.</span></div>
<p>Artikel <a href="https://www.berita-indo.com/2026/06/17/saat-ekonomi-sulit-warga-pekalongan-utamakan-kenyang-daripada-menu-mewah/">Saat Ekonomi Sulit, Warga Pekalongan Utamakan Kenyang daripada Menu Mewah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.berita-indo.com">Berita Indo</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.berita-indo.com/2026/06/17/saat-ekonomi-sulit-warga-pekalongan-utamakan-kenyang-daripada-menu-mewah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
